
Angin di hutan ini tak bersuara. Tapi setiap bisikannya seperti tahu cerita yang bahkan manusia tak ingin kenang. Di antara pohon-pohon tua yang berdiri seperti penjaga makam, hutan ini menyimpan nama-nama yang tak pernah ingin diingat Alinaone Novel. Nama-nama yang dahulu diserukan dengan harapan, namun kini hanya menjadi gema tanpa pemilik.
Di Antara Sunyi Hutan yang Menyimpan Nama-nama yang Tak Pernah Ingin Diingat
Namaku Alya, dan aku datang ke hutan ini bukan untuk mencari siapa-siapa, tapi untuk melupakan semuanya.
Aku melangkah pelan, menepis semak berduri dan dedaunan kering yang berteriak di bawah kakiku. Di sinilah mereka bilang, orang-orang menghilang. Tapi mereka salah. Tak ada yang menghilang di hutan ini—semuanya tinggal, dalam bentuk yang tak bisa dilihat mata biasa.
Hutan Kaldera, begitu orang-orang di desa menyebutnya. Tak ada di peta, tak disebut dalam buku geografi manapun. Tapi tiap anak di desa tumbuh dengan cerita larangan memasuki hutan itu. Katanya, hutan ini memanggil orang-orang yang sedang patah.
Dan ya, aku patah. Bukan cuma hatiku, tapi seluruh duniaku retak tak bersisa.
Hari itu, aku menemukan batu nisan kecil di bawah akar beringin. Tak ada nama. Hanya ukiran halus seperti ukiran dari kuku—atau mungkin dari jari seseorang yang terlalu ingin dikenang. Dan anehnya, aku merasa nisan itu memanggil namaku.
“Alya…”
Langkahku terhenti. Aku menatap sekeliling, tapi tak ada siapa-siapa. Hanya hutan. Hanya sunyi.
Tapi sunyi bisa lebih berisik daripada keramaian. Ia berteriak lewat bayangan. Ia membisik lewat ranting yang patah.
Aku duduk di akar beringin itu, dan tanpa sadar, menuliskan nama kakakku: “Darin.”
Dia hilang tiga tahun lalu. Terakhir terlihat… ya, di hutan ini. Mereka bilang dia pergi sendiri. Tak ditemukan jejak. Tidak juga jasad. Tapi aku tahu, Darin selalu tertarik pada suara-suara yang tak terdengar orang lain.
“Nama-nama di hutan ini,” begitu katanya padaku waktu kecil, “bukan untuk diucapkan, tapi untuk dijaga.”
Darin selalu bicara seperti penyair yang lahir terlalu cepat atau terlalu terlambat. Sekarang aku tahu, mungkin dia memang milik waktu yang berbeda.
Hari mulai gelap. Tapi aku tak takut. Ada yang aneh di tubuhku. Semacam kehangatan yang datang dari dalam tanah. Seolah ada tangan lembut yang menarikku, bukan untuk menakut-nakuti, tapi… mengajak pulang.
Aku mengikuti naluriku. Menyusuri jalan kecil yang tak terlihat, seolah dedaunan sendiri menyingkirkan diri agar aku lewat. Dan di sanalah aku menemukannya—lingkaran batu, dengan 13 nisan kecil. Semua tanpa nama.
Satu ruang kosong di tengah. Seolah menunggu.
Aku mendekat. Dan jantungku hampir berhenti.
Di tengah ruang itu, ada boneka kain usang… boneka milik Darin. Yang dikuburkan bersamanya saat kami masih anak-anak. Tapi… tak mungkin. Itu kuburan simbolis. Kuburan untuk orang yang hilang. Lalu kenapa bonekanya ada di sini?
“Alya…”
Suara itu lagi. Tapi kali ini jelas. Seperti suara Darin. Aku menoleh. Dan di antara pohon pinus, berdirilah sosok samar, setengah bayangan, setengah cahaya.
Wajahnya Darin. Tapi matanya kosong. Mulutnya bergerak… tanpa suara, hanya bentuk bibir: “Tinggalkan namamu di sini, dan kamu bisa pulang.”
Aku tak mengerti. Tapi tubuhku bergerak sendiri. Menggenggam batu, dan menorehkan namaku di nisan ke-14.
A L Y A
Begitu huruf terakhir selesai kuukir, aku merasa seluruh diriku ditarik. Bukan ke bawah, tapi ke dalam. Ke dalam kenangan, ke dalam ingatan, ke dalam luka yang belum pernah sembuh.
Aku melihat Darin. Duduk di meja makan. Ibuku menyuapinya. Aku tertawa di pojok, sementara ayah memotret kami. Aku melihat ulang tahun ke-10-ku, di mana Darin memberiku gelang kertas bertuliskan “Jangan pernah lupa.”
Lalu… malam itu. Saat Darin tak kembali.
Aku melihat dia berjalan menuju hutan, menyelinap keluar jendela. Lalu gelap. Lalu hilang.
Dan sekarang… aku bersamanya. Di sini. Di antara mereka yang telah meletakkan nama mereka di tanah ini. Kami bukan arwah. Tapi kami bukan manusia biasa juga.
Kami adalah penjaga sunyi.
Penjaga nama-nama yang dunia tak ingin ingat—karena terlalu menyakitkan, terlalu membingungkan, atau terlalu menyesakkan untuk dikenang.
Setiap malam, kami berbisik kepada angin. Mengirimkan mimpi kepada mereka yang masih hidup—agar mereka tak datang. Tapi tetap saja, yang patah selalu datang.
Beberapa tinggal. Beberapa selamat. Tapi semua membawa luka.
Dan yang luka, adalah bagian dari kami.
Suatu hari, akan ada gadis lain, atau lelaki muda, yang melangkah ke hutan ini, membawa duka di punggung mereka. Dan kami akan mendekat, tak untuk menakut-nakuti… tapi untuk menyampaikan pesan:
Di dunia ini, tak semua nama ditakdirkan untuk dikenang.
Kadang, yang terbaik yang bisa kita lakukan adalah… melepaskan.
Dan saat kita siap, kita tak lagi menjadi nama. Kita menjadi angin. Menjadi pohon. Menjadi bintang yang mengintip dari celah dedaunan. Kita menjadi sunyi… yang menyapa lembut jiwa-jiwa rapuh yang datang mencari jawaban.
Aku Alya.
Dan aku tak ingin diingat.
Karena yang mengingat, akan kembali.
